Rabu, 16 Januari 2013

Penerimaan Pajak 2012 Hanya Rp980 Triliun


Penerimaan Perpajakan pada tahun 2012 mencapai Rp980 triliun, lebih rendah dari target yang ditetapkan sebesar Rp 1.016 triliun. Hal tersebut dikarenakan target pajak penghasilan tidak tercapai.

Direktur Jenderal Pajak Kementerian Keuangan, Fuad Rahmany mengungkapkan, kondisi ekonomi global saat ini memukul para perusahaan yang ada di Indonesia sehingga setoran pajak PPh badan berkurang. PPh badan dalam APBN-P 2012 ditargetkan sebesar Rp513,7 triliun sedangkan realisasinya Rp423,7 triliun.
"Penurunan yang signifikan paling banyak pph badan, bukan pph orang pribadi," ujar Fuad di kantor Kementerian Keuangan, Jakarta, Senin 7 Januari 2012.

Fuad menjelaskan untuk PPh perorangan pada 2012 tumbuh sekitar 19 persen. Krisis global, menurutnya, belum menghantam kemampuan masyarakat untuk membelanjakan uang, karena itu penerimaan PPh orang pribadi masih terus tumbuh. "Artinya dampak dari krisis ekonomi global memukul laba usaha dari perusahaan, tapi pendapatan karyawannya belum terpukul," ujarnya.

Pajak Pertambahan Nilai (PPN) pada 2012 yang menjadi primadona utama penerimaan pajak. Target yang ditetapkan sebesar Rp336,1 triliun dalam APBN-P terlampaui menjadi Rp337,6 triliun.

Capaian tersebut diklaim sebagai hasil dari usaha keras Ditjen Pajak dalam melakukan reformasi sistem pemungutan PPN tersebut. Sehingga penerimaan dapat dimaksimalkan.

"Reformasi yang dilakukan misalnya di bidang penegakan hukum terhadap pemungutan PPN. Makanya drop PPh badan dapat ter-cover dengan PPN."
Sementara Pajak Bumi dan Bagunan (PBB) pada 2012 sesuai dengan target sebesar Rp29 triliun. Sedangkan realisasi pajak-pajak lainnya hanya sebesar Rp4,2 trilun, tidak mencapai target sebesar Rp 5,6 triliun.

Fuad juga memaparkan komponen perpajakan lainnya seperti cukai menyumbang Rp95 triliun melampaui target sebesar Rp83 triliun. Kemudian pajak perdagangan Internasional, yaitu bea masuk mengalami peningkatan menjadi Rp28,3 triliun lebih besar dibanding APBN-P 2012 sebesar Rp24,7 triliun.  

Penurunan terjadi pada penerimaan bea keluar, yang capaiannya hanya sebesar Rp21,2 triliun. Ini lebih rendah dibandingkan target sebesar Rp23,2 triliun. Hal itu dikarenakan belum efektifnya penerapan bea keluar mineral yang baru diterapkan tahun ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar