Senin, 04 Februari 2013

Bursa Saham di Irak Mulai Bergairah


Investor asing disinyalir memborong sekitar 70 persen dari penawaran perdana saham (initial public offering/IPO) Asiacell Communications, operator telepon seluler, di bursa saham Irak.

Hal itu, merupakan kunci awal kepercayaan bagi investor asing di negara yang baru pulih dari perang beberapa tahun terakhir ini.

Shwan Ibrahim Taha, Direktur Securities Rabi di Baghdad, perusahaan pialang yang menyelenggarakan IPO saham mengatakan bahwa setidaknya tercatat US$1,3 miliar (sekitar Rp12,4 triliun) permintaan investor terhadap IPO saham Asiacell Communications, operator telepon seluler Irak.

"Itu sedikit melebihi jumlah saham yang ditawarkan sebelumnya. Sedangkan sisanya dibeli investor lokal," kata dia seperti dikutip dari laman Wall Street Journal, Senin 4 Februari 2013.

IPO Asiacell adalah penawaran saham perdana terbesar di negara Timur Tengah tersebut sejak 2008, dan minat asing tertinggi saat ini, yang menjadi sinyal positif bagi investor untuk masuk ke bursa negara yang sedang berkembang dan berisiko seperti ini.

Selain investor asing, pemegang saham pengendali Asiacell, Qatar Telecom, diketahui juga telah menggunakan momen IPO tersebut untuk  meningkatkan jumlah sahamnya di operator telepon seluler itu dari saat ini hanya 53,9 persen.

Qtel menyatakan tahun lalu bahwa pihaknya bermaksud untuk meningkatkan sahamnya di Asiacell sampai 60 persen. Hal itu, masih belum ada perubahan saat disampaikan manajemen perusahaan Qatar itu, Minggu 3 Februari 2013.

Asiacell mengungkapkan bahwa pemegang saham minoritas menjual 25 persen dari kepemilikannya atau sekitar 67,5 miliar saham, dengan harga minimal 22 dinar Irak (US$0,02) per saham. Transaksi perdana Asiacell akan dimulai hari ini di Bursa Efek Irak.

Kepala Bursa Saham Irak, Taha Abdulsalam menyatakan bahwa IPO ini diharapkan dapat meningkatkan likuiditas pasar saham-saham kecil di Irak, karena jumlahnya hampir dua kali lipat dari emiten yang ditercatat.

Perdagangan saham di Bursa Saham Irak dibuka pada 2004, kini memiliki lebih dari 90 perusahaan yang mencatatkan sahamnya. Saat ini, didominasi oleh sektor perbankan.

Beberapa analis pesimistis bahwa IPO Asiacell mampu meningkatkan penjualannya melebihi angka US$1,3 miliar, di tengah kekhawatiran investor akan kerusuhan politik di Irak, dan membuat pasar saham tidak likuid.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar